Mandasia, Novel Kuliner Dunia
Ada banyak buku tebal selain kamus. Salah satunya buku karangan Yusi Paraemon berjudul Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi. Judulnya memang aneh, dan kalau yang ngarang bukan Yusi yang sudah cukup terkenal dan punya jaringan kawan penulis, mungkin buku tersebut tidak begitu ramai diperbincangkan. Mungkin saja. Tetapi Yusi tentu mempertaruhkan namanya sendiri dan tidak sembarangan dalam menelorkan buku.Buku yang tebalnya lebih dari 400 halaman dengan font kecil tersebut memang menarik.. Ya, saya bilang menarik. Pengarangnya sendiri menyebutnya sebagai dongeng, dan memang mirip benar dengan dongeng. Dongeng era modern, barangkali begini ini modelnya.
Dan dengan menyebut karyanya sebagai dongeng, Yusi sebenarnya menjadi lebih ringan untuk membawa cerita kemana saja ia mau, tanpa dibenani data-data sejarah misalnya. Meski tentu saja logika cerita tetap dipegangnya kuat-kuat, berbeda dengan dongeng pendek yang lebih sering tidak masuk akal.
Kisahnya unik: Tentang Kerajaan Gilingwesi yang dipimpin oleh Watugunung. Kerajaan yang kuat dan makmur. Satu waktu, kerajaan Gilingwesi mengekspansi sebuah wilayah bernama apaah namanya saya lupa (banyak dosa kali ya, padahal baru tadi pagi namatin novel itu). Besoklah saya edit lagi. Ada pemberontakan, tentu saja, dan seorang anak muda bernama Sungu Lembu (yang menjadi narator dalam novel ini) menaruh dendam kesumat pada Watugunung. Tetapi ia tidak bisa bisa dengan mudah menemui Watugunung karena pengawalannya yang ketat. Ia yang sering mengumpat "Anjing" dan "Tapir Bunting" mendapat takdir baik.
Cerita membawa Sungu Lembu bertemu dengan Nyi Manggis, Ratu di tempat rumah dadu. Lalu di sana ia bertemu dengan pangaran Mandasia, salah satu putra Watugunung. Dengan Raden Mandasia inilah Si Sungu bertualang ke negeri Gerbang Agung. Tujunnya adalah mencegah perang.
Aduh, sdah malam. saya mengantuk. Saya lanjutkan besok.